Teman Setia Ku

Jom kita Kongsi Mencari Ilmu Hingga Ke Hujung Nyawa

Jumaat, 1 Februari 2013

Motivasi Diri


Jom kongsi sama-sama baca tauu..Kebetulan masa Anie jalan-jalan terjumpa la motivasi tajuk ni jadi Anie nak kongsi la sama rakan-rakan yang singgah blog Anie.Jomm baca..

Menangani Rasa Tersinggung

Ada sesetengah orang mudah sangat rasa tersinggung terutamanya yang berjiwa sensitif, pantang terusik atau tersilap kata-kata sikit, sudah terasa hati dan memendam rasa. Sesetengah orang menunjukkan reaksi apabila tersinggung, seperti merajuk, marah, dsb tapi tidak kurang juga yang simpan saja di dalam hati, sehingga meletus apabila sudah tidak tahan lagi. Memang agak sukar berkawan dengan orang yang mudah tersinggung, sentiasa saja terpaksa menjaga hatinya. Bagaimana pula kalau kita sendiri yang terlebih sensitif dan mudah tersinggung?

Artikel berikut baik dijadikan renungan dan diamalkan kaedahnya jika bersesuaian….
Menangani Rasa Tersinggung
Salah satu hal yang sering membuat energi/tenaga kita berkurangan adalah timbulnya rasa ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain. Ketika tersinggung, paling kurang kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membahayakan dari ketersinggungan adalah habisnya waktu kita untuk memikirkan “balas dendam”.
Kesan yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lain-lain lagi. Oleh itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu keperluan.
Apa yang menyebabkan orang tersinggung?
Ketersinggungan seseorang timbul kerana menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, baik, tampan, dan merasa berjaya. Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan, tetapi apabila ada yang menilai kita kurang sedikit saja akan langsung rasa tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Oleh itu, ada sesuatu yang harus kita perbaiki, iaitu menilai diri secara proportional.
Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat kebaikan.
Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin mudah tersinggung.
Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk menangani ketersinggungan:
Pertama: Belajar melupakan
Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang pengarah lupakanlah jawatan itu. Jika kita ahli agama lupakan kelebihan ilmu agama kita. Jika kita seorang pemimpin lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap semuanya ini berkat dari Allah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali berkat ilmu yang dipercikkan sedikit oleh Allah SWT.
Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik titipan berkat dari Allah. Kita tidak mempunyai jawatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan dipertanggung jawabkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan semakin sering kita sakit hati.
Kedua: Kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat jika kita dapat mengendalikannya dengan tepat. Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika dapat mengendalikannya dengan tepat. Kita akan merugi apabila salah mengendalikan kejadian, dan sebenarnya kita tidak dapat memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Yang dapat kita lakukan ialah memaksa diri sendiri mengendalikan orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, anggap saja ini episod atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita.
Ketiga: Kita harus berempati
Iaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang yang tengah menaiki gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang gajah tersebut. Yang di depan berkata, “Oh indah nian pemandangan sepanjang hari”. Kata-kata seperti ini dianggap sindiran oleh orang yang hanya melihat buntut gajah di belakang. Oleh itu, kita harus belajar berempati jika tidak ingin mudah tersinggung. Namun harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.
Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai beban peningkatan kualiti diri dan kesempatan untuk mempraktikkan buah2 “kebaikan” iaitu, dengan memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan.

Tiada ulasan:

Iklan sana sini

MENARIK

PILIHAN TERBAIK

Terima Kasih Kerana Sudi Mengunjungi Blog Anie